PERUBAHAN KULTUR BERSAMA DENGAN Cc5
Oleh : Y. Sulistya Adventtyas, S.Pd dan dari beberapa sumber*)
Konsep Cc5 mulai muncul dalam karya kerasulan Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Boromeus khususnya dalam karya pendidikan bersamaan dengan pelaksanaan pertemuan Kapitel ( Pertemuan murid-murid Yesus yang diikuti oleh para suster CB) yang mengangkat tema “SUSTER CB MURID PEREMPUAN YESUS KRISTUS PENGEMBAN REKONSILIASI DALAM DUNIA YANG TERLUKA.” Dalam pertemuan tersebut ditegaskan kembali tentang pembinaan rohani terkait dengan kerasulan dan penghayatan sebagai suster CB.
Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Boromeus menemukan beberapa keprihatinan dunia yang perlu segera disikapi. Langkah yang ditawarkan adalah melakukan “Rekonsiliasi” dengan berpedoman kepada teladan Bunda Elisabeth sebagai “kiblat” karya Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Boromeus. Tahapan rekonsiliasi yang dimunculkan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan pemulihan relasi manusia dengan Allah
2. Menciptakan Perdamaian
3. Menciptakan Keutuhan
4. Membawa Harapan akan Kehidupan
5. Melakukan Penyelarasan akan Ciptaan
Rekonsiliasi ini dihidupi oleh keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Bunda Elisabeth selama hidupnya yaitu :
1. Mampu menanggapi situasi pada zamannya
2. Menciptakan suasana masyarakat yang damai dan utuh setelah terluka akibat terjadinya Revolusi Prancis
3. Memberikan harapan hidup dengan melakukan berbagai tindakan nyata untuk meringankan beban penderitaan manusia
4. Mangajak masyarakat menyadari akan ciptaan Allah sebagai bentuk upaya pemulihan relasi manusia dengan Allah
Bunda Elisabeth sangat peka dan tanggap akan situasi pada zamannya. Ia mampu menangkap dengan tajam gerakan Roh dalam hidupnya. Bunda Elisabeth sangat peka terhadap keterlukaan dan keterbatasan manusia. Ia mampu menghubungkan dan mengidentifikasi diri dengan mereka yang menderita. Ia sangat memahami bahwa Allah sendiri juga menderita didalam dan bersama dengan mereka yang terluka. Kesimpulan sederhana yang muncul adalah jika Bunda Elisabeth hidup pada zaman ini pastilah beliau adalah orang pertama yang merasakan dan menggerakkan seluruh komponen Tarakanita untuk mendobrak keperihatinan yang dialami oleh Lembaga Tarakanita.
Bunda Elisabeth dan para Suster CB dalam menghadapi dan menyikapi keprihatinan dunia adalah dengan mengajak untuk melakukan rekonsiliasi bersama. Lalu bagaimana dengan Tarakanita dalam menyikapi krisis dalam lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan ini?
Perubahan kultur merupakan wacana yang baru-baru ini dicanangkan oleh Lembaga Tarakanita. Seluruh komponen Tarakanita berusaha untuk disadarkan akan realita yang sedang dialami oleh Tarakanita yang secara umum/nasional sedang mengalami krisis.
Disadari atau tidak, selama ini komunitas Tarakanita seperti “dinina bobokkan” oleh kejayaan Tarakanita selama ini yang sangat dikenal oleh masyarakat luas. Keadaan seperti ini mengakibatkan sulitnya memunculkan kesadaran anggota komunitas Tarakanita untuk melihat dan bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Semakin menjadi kekawatiran yang mendalam bahwa keadaan seperti ini dirasakan telah membudaya dalam diri angota komunitas Tarakanita. Sehingga jika dikatakan secara ekstrim bahwa Tarakanita tinggal menunggu waktu saja untuk mengalami kehancuran.
Bertolak dari suasana seperti itulah akhirnya muncul suatu upaya penyadaran diri yaitu dengan mencanangkan suatu gerakan perubahan kultur. Perubahan kultur yang dikehendaki adalah seluruh anggota komunitas Tarakanita diajak untuk kembali ke kithah Tarakanita. Seluruh anggota komunitas Tarakanita diajak untuk kembali mengimplementasikan Visi Misi pendidikan Tarakanita dengan cara mengimplementasikan nilai-nilai pokok perwujudan misi atau akhir-akhir ini dikenal dengan Cc5. Tujuannya adalah agar apa yang ada dalam Cc5 ini mampu menjadi roh yang menjiwai seluruh gerak karya pendidikan di Tarakanita.
Suatu pertanyaan mendasar adalah roh apa yang ada dalam Cc5 tersebut ? Nilai-nilai yang dikembangkan dalam Cc 5 adalah :
Compassion :
c1. Competence
c2. Conviction
c3. Creativity
c4. Community
c5. Celebration
Compassion bermakna mencintai dengan tulus hati dan menunjukkan sikap berbela rasa. Competence mengandung nilai kemampuan dalam mengembangkan keahlian dan keterampilan dibidangnya dalam rangka untuk mencapai hidup yang sesuai dengan martabat manusia. Conviction mengajak kita untuk berani dan mantap dalam menghadapi tantangan hidup dan berusaha terbuka dalam menghadapi tanda-tanda zaman. Creativity cenderung kearah inovativ yaitu mampu menemukan hal-hal baru dan mampu mengembangkan keinginan untuk maju. Community mengajak kita untuk mampu melakukan rela berkorban dan membangun persaudaraan yang sejati. Dan Celebration bermakna agar kita mampu mensyukuri dan merayakan kebaikan Allah sebagai sumber kehidupan.
Dengan bertolak dari Cc5 ini Tarakanita berupaya untuk melakukan perubahan kultur dengan menghidupkan kembali “budaya hati.” Dengan menghidupkan kembali budaya hati ini diharapkan seluruh anggota komunitas Tarakanita mampu mendengarkan dengan hati, memahami manusia dalam keutuhannya, mengerti terhadap sesama terutama yang lemah, miskin dan bodoh, tidak mudah memberikan cap negativ, dan akhirnya memiliki semangat untuk menumbuhkan atau meyuburkan komunikasi yang dialogis.
Penutup : Idealisme yang menjadi tujuan perubahan kultur dengan berpedoman kepada Cc5 adalah :
1. Dengan Compassion di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita :
a. Memiliki kepedulian terhadap sesama tanpa ada unsur membeda-bedakan
b. Mampu merasakan penderitaan orang lain dengan sikap empati dan keramahan
2. Dengan Competence di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita:
a. Memiliki kemandirian
b. Memiliki kecakapan hidup
c. Memiliki semangat pengabdian dan pelayanan
d. Mampu mengembangkan budaya dialog
e. Memiliki kedamaian, kegembiraan dan saling menghormati
3. Dengan Conviction di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita:
a. Terbuka terhadap perkembangan IPTEK
b. Bersikap kritis, selektif dan membangun
c. Memelihara budaya dan tradisi bangsa sendiri
d. Mudah menyesuaikan diri
e. Mampu belajar dari kegagalan
f. Berani menanggung resiko
g. Mampu merefleksikan hidupnya
h. Tekun dan tabah dalam menghadapi tantangan
4. Dengan Creativity di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita:
a. Mampu mengembangkan gagasan secara kreatif dan inovatif
b. Mampu berdaya guna bagi masyarakat
c. Mampu memanfaatkan peluang
d. Mampu memanfaatkan sarana yang ada
e. Pantang menyerah
f. Memiliki kemauan untuk terus belajar
5. Dengan Community di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita:
a. Memiliki sikap saling mendukung, memperhatikan dan menghargai
b. Dapat menerima dan menghargai kelebihan dan kekurangan orang lain
c. Mampu bekerjasama dengan orang/kelompok lain
d. Senang berdialog
e. Memiliki semangat berbagi tanpa pamrih dan murah hati
f. Selalu gembira, ramah, sederhana, dan terbuka
6. Dengan Celebration di harapkan seluruh angota komunitas Tarakanita:
a. Menjadi manusia yang penuh harapan
b. Mampu mengembangkan talenta demi kebaikan sesama
c. Semangat dan tekun untuk terus belajar
d. Mensyukuri hidup sebagai anugerah dari Allah
e. Menyadari bahwa manusia merupakan ciptaan dan alat Tuhan untuk membangun dunia menjadi lebih baik.
Buah Refleksi Taman Eden, 29,30,31 Agustus 2008
*) Didukung oleh diktat “Budaya Rekonsiliasi” oleh Dra. Sr. Surani, CB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar